Minggu, 16 September 2012
Kamis, 02 Agustus 2012
telat share
hai hai hai....
tebak sekarang aku ada dimana? yap, dirumah... enaknya bulan puasa di rumah.. ga kayak tahun lalu.. hehe,
BeTeWe, sebenrnya aku mau share MV dahsyat ini sebulan yang lalu.. tapi, berhubung aku di rumah dan jarang bgt ngenet, jadi hari ini deh...
gimana? keren abis kan...
pas pertama liat MV ini, aku cuma bisa jerit kayak kucing kejepit pintu.. hshshs...
ini MV keren bgt dah... ga bisa ngomong apa2 lagi..
centralnya donghae... tapi eunhyuk oppa ga kalah keren disini...
saranghae oppadeul...................
tebak sekarang aku ada dimana? yap, dirumah... enaknya bulan puasa di rumah.. ga kayak tahun lalu.. hehe,
BeTeWe, sebenrnya aku mau share MV dahsyat ini sebulan yang lalu.. tapi, berhubung aku di rumah dan jarang bgt ngenet, jadi hari ini deh...
pas pertama liat MV ini, aku cuma bisa jerit kayak kucing kejepit pintu.. hshshs...
ini MV keren bgt dah... ga bisa ngomong apa2 lagi..
centralnya donghae... tapi eunhyuk oppa ga kalah keren disini...
saranghae oppadeul...................
Jumat, 29 Juni 2012
true love? #3
Maka cinta yang menjawab semua keluh kesah… cinta yang
membuat semuanya menjadi mungkin… ia yang menjadikan semuanya tulus…
Malam saat Fram sekarat.. silahkan simak… (diambil dari salah satu kisah dalam "sejuta rasanya- Tere Liye")
Lama sekali istri Fram memandangai belibis ditangannya. Mendadak
ia merasakan ada yang ganjil. Lihatlah, mata belibis itu menyimpan perasaan
takut kehilangan sesuatu. Cemas berpisah dengan sesuatu. Istri Fram mengenali
tatapan itu. Tatapan itu sama seperti miliknya, tatapan yang amat takut
kehilangan suaminya. Takut berpisah dengan suaminya.
Fram semakin kejang. Mengeluh tertahan. Istri Fram gemetar
mengambil pisau. Sekali lagi menatap mata belibis dalam jepitan tangannya. Belibis
ini pasti memiliki pasangan, sama seperti dirinya yang memiliki pasangan. Tidak.
Istri Fram berkata lirih. Malam ini, jika sepotong daging itu akan mengobati
suaminya, itu tidak akan berasal dari belibis elok ini.
Biarlah dewa-dewi menjadi saksi. Biarlah semua ini menjadi
bukti cinta sejatinya. Istri Fram sambil menggigit bibir gemetar meneaskan
pisau tajam. Bukan ke leher belibis, tapi ke betis kakinya. Sempurna memotong. Malam
itu istri Fram memberikan daging miliknya.
Ia melepas pergi belibis jelmaan itu. Itulah yang terjadi. Malangnya,
belibis jantan yang hendak kembali terbang ke langit terjerambab di pecahan es
di danau. Mati tenggelam tanpa seorangpun tahu, juga termasuk pasangan
betinanya. Malam itu, istri Fram telah membuktikan cinta sejatinya. Andaikata demi
kesembuhan suaminya ia harus memberikan jantungnya, maka itu pasti akan
diberikannya.
Begitulah… maka malang sekali Fram menurutku, yang sama
sekali buta tentang cinta. Bagiku sendiri,
cinta itu tak mempunyai tujuan.. jika ada cinta yang mempunyai tujuan, maka ia
akan dikhianati oleh tujuannya tersebut.
<the end>
Kamis, 28 Juni 2012
true love? #2
dan adakalanya cinta diuji untuk mengetahui apakah ia benar-benar cinta sejati....
Tapi cerita yang lebih menyedihkan baru saja dimulai. Tidak
ada yang tahu kalau seekor belibis itu memiliki pasangan. Menuut keyakinan
penduduk kota kami, dalam waktu tertentu dewa-dewi surge akan turun menjejak
bumi. Celakanya elibis itu turun di waktu dan tempat yang salah.
Fram dan istrinya kembali keseharian mereka dulu yang
menyenangkan. Tubuh Fram kembali kekar. Ia mengambil alih tugas istrinya selama
ini. Terlebih kaki istrinya pincang sekarang, terpotong hingga pangkal betis.
“terkena pohon cemara yang roboh. Membusuk. Jadi aku potong!” Istrinya
menjelaskan. “kau tetap cantik meski pincang, istriku!” fram bergurau riang. Istrinya
bersemu merah. Dan kebahagiaan mereka semakin lengkap saat enam bulan kemudian
istrinya hamil. Benar-benar kabar yang menyenangkan.
Saat kandungan istrinya menjejak tujuh bulan, terjadilah
peristiwa aneh itu. Fram yang sedang berburu rusa di hutan cemara, tidak
sengaja melihat seekor belibis indah. Fram berkali-kali jatuh mengejar belibis
itu hingga ke tepi danau. Melupakan banyak keganjilan. Dan terperanjatlah! Ia tidak
menemukan seekor belibis yang sedang berenang, melainkan seorang wanita yang
sedang mandi.
Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang
tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir dari sebuah perasaan? Tidak
akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah
lazim seseoang jatuh cinta lagi padahal sudah berjuta kali bilang ke
pasangan-pasangan lamanya “Ia adalah cinta sejatiku!”
Entah bagaimana caranya, Fram jatuh cinta pada pandangan
pertama dengan gadis belibis tersebut. duhai! Celakalah urusan ini! Jalan kisah
menjadi berpilin menyakitkan. Bukannya menghabiskan waktu bersama istrinya yang sedang hamil tua dirumah, Fram
malah lebih banyak duduk di tepi danau. Bercengkama dengan gadis itu.
Di mata Fram, gadis itu sungguh menyenangkan. Memesona. Pakaiannya
indah berkilauan. Perhiasannya cemerlang. Wajahnya bagai guratan sempuna
pematung tersohor. Tubuhnya memikat. Fram benar-benar jatuh cinta. Tak pernah
ia menyadari, ternyata cinta bisa sehebat ini.
Malangnya nasib istri Fram, seminggu sudah suaminya tidak
pulang-pulang. Ia hanya menunggu cemas di bawah pintu. Sementara perutnya
semakin memmbuncit. Dua minggu lagi bayinya akan lahir. Ditengah putus asanya
menunggu, pagi itu, persis saat cahaya matahari menerabar sela dedaunan pohon
cemara, persis saat bunga-bunga bermekaran di halaman pondok, istri Fram
memutuskan mencari suaminya.
Pencaharian yang menyesakkan. Dengan sepotong tongkat, istri
Fram menopang tubuhnya yang kesusahan menyisir hutan cemara. Dan lebih
menyesakkan lagi saat ia akhirnya menemukan Fram yang sedang tergila-gila
cinta, berdua dengan gadis cantik itu
.
Tersungkurlah istri Fram. Lirih memanggil suaminya. Duhai,
Fram hanya melirik selinta, lantas menyuruhnya pergi. Seperti tidak pernah
mengenalnya. Seperti tidak pernah mengenalnya.
Menangis istri Fram. Lemah berusaha memeluk kaki suaminya. Fram
justru mengibaskannya. Membuat tubuh dengan perut buncit itu jatuh terjungkal. Tongkat
yang dibawanya tak sengaja mengenai kepala. Istri Fram mengaduh kesakitan. Meski
ada yang lebih sakit lagi di hatinya.
Dimanakah janji cintanya? Dimanakah? Semuanya musnah disaat
mereka harusnya sedang berbahagia menanti kelahiran naak pertama mereka. Istri Fram
gemetar berusaha berdiri. Lirih memanggil dewa-dewi surge demi sebuah keadilan.
Ia gemetar berdiri dengan sebelah kakinya, pincang berusaha mencengkeram
bebatuan.
Fram tidak peduli. Menarik tangan gadis belibis, mengajaknya
pergi menjauh. Tapi, sebelum hal itu terjadi, dewa-dewi surge yang melihat
kejadian itu turun ke bumi. Mengungkung tepi danau dnegan gemerlap mereka.
“siapakah yang memanggil dan meminta penjelasan?”
“aku.. “ istri Fram menjawab lirih.
Dan menjadi teranglah urusan itu. Gadis cantik itu adalah
penjelmaan pasangan belibis yang tersesat di pondok Fram dua tahun silam. Justru
gadis cantik itu menuntut keadilan. Istri Fram tersedu mendengar tuntutan itu,
ia tidak menyangka urusan berubah sedemiakian rupa.
“Baik, yang terjadi biarlah terjadi. Maka biarlah Fram yang
memutuskan masalah ini. Apakah ia akan memilihmu atau memilih gadis belibis. Wahai,
karena kau seorang manusia, dan gadis belibis ini separuh dewa-dewi, maka kami
akan memberikan kau tiga kali kesempatan untuk menghilangkan kelebihan miliknya
atau menambah keleihan milikmu. Setelah itu, apakah Fram akan memilihmu atau
gadis belibis itu teserah padanya.”
Isti Fram menyeka air matanya.
“aku ingin seluuh sihir gadis ini dihilangkan.”
Cahaya yang mengungkung gadis elibis ini mendadak lenyap. Pakaiannya
kehilangan kemilau. Perhiasannya beubah menjadi keikil batu. Duhai, tetap saja
ia terlihat lebih cantik dari siapapun di tempat itu. Tetap memesona. Fram dengan
mudah memutuskan memilih gadis belibis itu. Istri Fram mengeluh tertahan.
“Aku ingin seluruh sihir yang masih mengungkung suamiku
dihilangkan!” Istri Fram menyebut permintaan keduanya. Gentar sekali menunggu
hasilnya.
Sekejap cahaya yang membalut tubuh Fram sejak pertama kali ia
melihat buung belibis itu menghilang. Sihir pesona itu lenyap. Petani miskin
itu teiba-tiba seperti baru tersadakan. Tetapi, wahai, apalah arti cinta
sejati? Gadis belibis itu tetap memesona meski sihirnya tidak lagi menutup mata
dan menebalkan otaknya. Fram sekali lagi tega memilih gadis belibis itu.
Istri Fram jatuh terduduk.
Oh, dimanakah sisa-sisa janji itu? Dimanakah?
“Aku ingin Fram melihat janji kebahagiaan yang diberikan oleh
bayi yang kukandung!” istri Fram bekata lirih. Menyebut kesempatan ketiga
sekaligus terakhinya.
Siluet cahaya menggetarkan mengungkung kepala Fram. Ia seperti
menyaksikan visualisasi nyata masa depan mereka. Kehidupan yang menyenangkan di
pondon bersama anak-anak meaka. Taman bunga di tepi danau. Tetapi, apalah
gunanya janji masa depan itu? Fram mengibaskannya. Ia merasa memiliki janji
kehidupan yang lebih indah besama gadis belibis ini. Fram mendesis, memilih
gadis belibis.
Fram meraih tangan gadis belibis disebelahnya. Mengajaknya pergi.
Matanya benar-benar dibutakan oleh tampilan. Tega sekali ia memberangus
kehidupan bersama istrinya. Dewa-dewi menghela napas tertahan. Apapun hasilnya,
semua sudah selesai. Meeka beranjak hendak pergi. Saat itulah salah seoang
dewa-dewi itu berkata lirih.
“kenapa kau tidak menggunakan kesempatan terakhirmu untuk
menunjukkan kejadian yang sebenanya, wahai wanita yang malang.”
Wajah-wajah tertoleh, seorang dewa yang amat cemerlang
wajahnya terbang mendekati istri Fram.
“Kenapa kau justru menggunakan kesempatan terakhirmu untuk
memperlihatkan janji masa depan?”
Istri Fram tersedu, menggeleng, menyeka pipinya.
“Wahai wanita yang malang, kenapa kau tidak meminta kami
menunjukkan dengan nyata kejadian malam itu. Agar suamimu melihatnya. Agar gadis
belibis ini melihatnya.”
Istri Fram berkata lirih, tertahan, “Aku tidak ingin cintanya
kembali karena dia merasa berhutang budi.”
Dewa dengan wajah cemerlang itu tertawa getir…
“Kau melakukannya karena cinta, wahai wanita yang malang. Maka
tidak ada hutang budi. Ah, urusan ini benar-benar menyakitkan!” Dewa itu menoleh
ke arah Fram dengan tatapan menghinakan, “Kau tidak pernah tau mengapa istimu
pincang, wahai pemuda yang sepatutnya deikasihani. Dan kau, gadis belibis yang
menyedihkan, kau tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan belibis
pasanganmu. Biarlah hai ini seluruh dewa-dewi menjadi saksi, dalam urusan cinta
ini mereka yang dibutakan oleh duniawi tidak akan pernah mengerti hakikat cinta
sejati.”
Maka melesatlah dewa dengan wajah cemerlang itu ke angkasa,
menyusul dewa-dewi lainnya. Meninggalkan istri Fram yang menangis tersungkur
sendirian. Istri Fram yang hamil tua. Istri Fram yang menyimpan kisah
sesungguhnya apa yang terjadi malam itu, ketika suaminya sekarat. Peristiwa yang
tidak ingin ia perlihatkan pada suaminya, hingga suaminya merasa berhutang
budi.
Fram dan gadis itu justru sudah pegi segera.
Maka apa yang kau pikirkan tentang Fram? Apa yang terlintas
dibenakmu tentang istrinya? Yang jelas, semuanya terasa menyakitkan sampai ke
hulu jantung. Betapa teganya Fram meninggalkan istrinya yang sedang mengandung
karena tergila-gila dengan gadis yang rupawan? Maka siapa yang memiliki cinta
yang tulus? Apa senarnya yang terjadi pada malam yang disesalkan para dewa itu?
Ah, semuanya serba menambah rempah-rempah pertanyaan di benakku saat itu
meskipun aku sudah menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.
to be continued
true love? #1
Apakah cinta
sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia
sejenis kata akhir dari sebuah perasaan? Tidak akan becabang? Tidak akan
membelah diri lagi? Titik? Penghabisan?
Ada sebuah
kisah yang membuatku terperangah dari
salah satu cerita yang penuh rasa dalam buku Tere Liye “berjuta rasanya”. Kisah
ini sungguh pilu, menawan, dan menyakitkan. Aku terhanyut dalam derasnya sungai
emosi.. penyesalan, pengorbanan, ketulusan..
Silahkan disimak…
Dua ratus
tahun silam…
Legenda itu
dimulai disini. Legenda yang selalu diceritakan turun temuun oleh tetua kota. Diwariskan
dari satu geneasi ke generasi berikutnya. Denan pesan sederhana, jangan pernah
mengulangi kesalaha yang dilakukan Fram, si petani miskin.
Alkisah,
Fram amat beruntung mendapatkan istri yang sempurna. Kembang kota. Diantara
puluhan pemuda yang menyanjung dan menyatakan cinta, gadis itu justru memilih
Fram, pemuda miskin yang tinggal dekat danai kota. Meninggalkan janji kehidupan
yang lebih baikyang bisa diberikan pemuda kaya lainnya. Tidak juga, gadis itu
dihari pernikahannya tersenyum riang dan berkata, “Aku akan menjemput janji
cintaku, tidak ada janji kehidupan yang lebih hebat dari itu bukan?”
Awalnya
keluarga kecil itu memulai kehidupan bahagia selama lima tahun. Walau miskin,
meeka selalu merasa berkecukupan. Apalagi istrinya, tidak banyak menuntut
selalin perhatian dan kasih sayang.
Sayang, di
penghuung tahun kelima pernikahan meeka, musim dingin datang tak teperikan.
Kota dikungkung badai salju berhari-hari. Berminggu-minggu, berbulan-bulan.
Tidak ada yang tahu hingga kapan. Salju dimana-mana. Pohon-pohon meranggas
dialut gumpalan es. Kembang-kembang layu ditimbun tumpukan es. Danau membeku.
Dan tidak ada yang berniat menjejak laut yang setiap hari digantang angina
badai.
Seluuh kota
mengalami kesulitan besar. Berebut makanan menjadi pemandangan sehari-hari.
Enam bulan kemudian, harga sepotong roti tawar sebanding dengan sebutir peluru.
Tak ada yang bisa mengalahkan urusan perut. Kota kami yang elok bertetangga
selama ini, carut-marut oleh perkelahian. Dan celakanya, itu semua belum cukup,
penyakit aneh mendadak menjalar dengan cepat. Tubuh-tubuh lumpuh. Muka pucat.
Bibir membiru. Dan kematian silih berganti menghampiri.
Enam bulan
semenjak penyakit aneh itu tiba, kota kami benar-benar tak tertolong. Sepanjang
hari hanya kidung sedih yang terdengar. Nyanyian duka-cita. Pemakaman demia
pemakaman. Bagaimana dengan Fram dan istrinya? Jika di kota saja urusan pelik,
apalagi mereka. Enem bulan pertama setelah menghabiskan cadanga umbi-umbian di
gudang. Enam bulan berikutnya mulailah cerita memilukan penuh pengorbanan
tersebut. Fram terkena penyakit ganjil itu.
Tubuhnya
membeku di atas ranjang. Tanpa bisa digerakkan. Tinggallah istrinya yang kalut
oleh banyak hal. Ia tahu persis, sejak memutuskan menikah dengan Fram, bahwa
tentu saja tidak setiap hari janji kebahagiaan itu akan datang dalam kehidupan
cinta mereka. Adakalanya masa getir tiba. Dan saat itu benar-benar terjadi,
tiba waktunya untuk menunjukkan betapa besar cinta itu. Bukan sekedar omong
kosong.
Tak pernah
terbayangkan tangan lembut itu mengais-ngais tumpukan salju, beusaha menemukan
sisa umbi-umbian yang tersisa. Terseok mengumpulkan kayu bakar di hutan.
Melubangi permukaan danau, mencoba peruntungan mendapatkan ikan. Memperbaiki
atap rumah yang rusak. Menambal dinding-dinding yang sobek oleh badai salju.
Istri Fram
bejanji akan bertahan hidup.
Dan semakin
menyedihkan pemandangan itu, karena setiap malam ia dengan sabar merawat
suaminya yang terbaring lumpuh diatas tika. Menyuapinya dengan penuh kasih
sayang. Menggendong tubuh suaminya yang semakin ringkih mendekati perapian.
Membuang sisa kotoran suaminya dari atas ranjang. Memandikannya dengan air
hangat. Istri Fram bersumpah akan bertahan hidup, demi suaminya.
Dua belas
bulan berlalu. Musim tak menunjukkan tanda-tanda akan berbaik hati. Kerusuhan
besa menjalar di kota kami. Kecamuk orang-orang yang kelaparan semakin
menjadi-jadi. Dan ditengah kota yang sekarat itu, seorang peziarah-entah dari
mana datangnya-singgah. Peziarah itu amat teganya mengatakan kalimat yang
paling tidak logis agi penduduk kota, semua penyakit aneh ini bisa disembuhkan
dengan memakan daging. Astaga, dimana lagi mereka akan menemukan daging hari
ini? Seluruh ternak tak bersisa. Seluruh cadangan makanan tak berbekas.
Keadaan Fram
semakin menyedihkan. Sehari kemudian, tunuhmya mendadak kejang-kejang. Sekarat.
Istrinya panic. Malam itu juga sambil terseok-seok ia menggendong Fram menuju
kota. Meminta pertolongan tabib. Badai datang menghajar apa saja. Pohon cemara
bertumbangan. Istri Fram mendesis,menggigit bibir berusaha melalui badai salju.
Entah dari mana kekuatan itu, dia tiba dikota keesokan harinya. Dengan tubuh
biru, kedinginan.
Sayang,
tidak ada petolongan yang tersisa di kota. Tabib mengangkat bahu, menatap amat
prihatinnya. “aku tidak tahu, apakah yang dikatakan peziarah itu benar atau
tidak. Berikan suamimu sepotong daging! Semoga itu menyembuhkannya!” istri Fram
sungguh menatap tak percaya. Kecewa. Sedih. Setelah perjalanan melelahkan ini,
ternyata hanya untuk mendengarkan pernyataan gila itu? Gemetar dengan sisa tenaga
ia membawa Fram kembali ke tepi danau. Menyedihakan. Tubuhnya yang semakin
kurus ringkih itu terhuuyung, mencoba terus bertahan.
Jangankan
daging, sepotong umbipun sudah sulit didapat. Ia sudah membongkar seluruh bekas
kebun suaminya. Tidak ada. Kalaupun ada, sudah membusuk. Ikan-ikan di danau itu
juga netah pergi kemana. Istri Fram menangis. Menatap wajah suaminya yang
semakin sekarat. Ia tahu, sesejati apapun cinta mereka, pastilah mengenal
perpisahan. Ia tahu sekali itu. Tapi ia ingin berpisah dengan suaminya dalam
sebuah pelukan yang indah. Saat satu sama lain bisa saling menyebut nama. Bukan
seperti ini. Malam itu suaminya benar-benar tidak tertolong lagi. Istri Fram
tersedu memeluk tubuh suaminya.
Tetapi, hey!
Sudut matanya menangkap seekor belibis hinggap di jendela. Belibis? Istri Fram
menyeka ujung matanya. ganjil sekali. Bagaimana ada seekor belibis dimusim
dingin seperti ini? Tapi ia tidak sempat memikirkannya. Dengan gesit ia
berusaha menangkap belibis tersebut. jatuh bangun berkali-kali. Mantelnya
sobek. Setengah jam berlalu, stelah mengerahkan sisa-sisa tenaga tubuhnya, ia
tersenyum lebar menjepit sayap belibis tersebut.
Malam itu, takdir langit di tepi langit itu berubah. Sepotong
daging yang masuk ke tubuh Fram mengembalikan kesehatannya. Malam itu, takdir
langit di kota kami juga berubah. Musim dingin berkepanjangan tersebut
berakhir. Digantikan semburat cahaya matahari pagi. Gumpalan salju mencair.
Kecambah mekar tak terbilang. Tunah tumbuh menghijau. Janji kehidupan baru
datang.
bagaimana sejauh ini? apakah sudah terlihat apa cinta sejati itu? bagiku sudah cukup dengan istri Fram yang tetap setia merawat suaminya yang hampir memutus kehidupan didunia ini. namun, itu smeua belum terlihat jelas. sesungguhnya puncak dahaga yang membuatku terbawa arus emosi adalah dengan cerita selanjutnya....
to be continued..
Senin, 25 Juni 2012
tak hanya aksi, tapi juga berbagi
mahasiswa...
segelintir pemuda yang beasal dari rakyat...
pemuda yang senantiasa menjadi tempok kekuatan dan penghubung antara rakyat dan pemegang kuasa..
telah melekat bagi siapapun, jika mendengar kata mahasiswa pasti yang terbayang adalah demo, dpr dan lain lain....
demo dan segala macam tindakan (positif) yang dilakukan mahasiswa itu semata-mata untuk kepentingan rakyat.... seperti yang kita ketahui, saat rapat paripurna tentang kenaikan BBM.. saat itu mahasiswa menjadi saksi kesemrawutan paa wakil rakyat saat mengambil keputusan.. hingga pada saat kesabaran para mahasiswa diuji, meeka diketakan sebagai pembuat onar.. padahal itu semua demi rakyat..
berbagai macam aksi terhadap peraturan pemerintah yang dianggap telah merugikan diadakan oleh mahasiswa...
namun, untuk benar-benar meresapi dan sungguh-sungguh dalam menggencarkan aksi turun kejalan, mahasiswa perlu untuk merasakan bagaimana kehidupan akyat yang sesungguhnya.. banyak kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh mahasiswa... contohnya ketika saya mengikuti 2 rangkaian acara pengabdian selama dua minggu berturut-turut (jakarta hidden tour oleh BEM UI dan FIK mengabdi oleh BEM FIK), saya benar-benar merasakan susahnya hidup ini..
mahasiswa... tak punya kepentingan apapun dalam membela rakyat..
semangat juang yang tulus,, tak mementingkan materil...
berbagi penuh keikhlasan
beraksi penuh perjuangan
segelintir pemuda yang beasal dari rakyat...
pemuda yang senantiasa menjadi tempok kekuatan dan penghubung antara rakyat dan pemegang kuasa..
telah melekat bagi siapapun, jika mendengar kata mahasiswa pasti yang terbayang adalah demo, dpr dan lain lain....
demo dan segala macam tindakan (positif) yang dilakukan mahasiswa itu semata-mata untuk kepentingan rakyat.... seperti yang kita ketahui, saat rapat paripurna tentang kenaikan BBM.. saat itu mahasiswa menjadi saksi kesemrawutan paa wakil rakyat saat mengambil keputusan.. hingga pada saat kesabaran para mahasiswa diuji, meeka diketakan sebagai pembuat onar.. padahal itu semua demi rakyat..
berbagai macam aksi terhadap peraturan pemerintah yang dianggap telah merugikan diadakan oleh mahasiswa...
namun, untuk benar-benar meresapi dan sungguh-sungguh dalam menggencarkan aksi turun kejalan, mahasiswa perlu untuk merasakan bagaimana kehidupan akyat yang sesungguhnya.. banyak kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh mahasiswa... contohnya ketika saya mengikuti 2 rangkaian acara pengabdian selama dua minggu berturut-turut (jakarta hidden tour oleh BEM UI dan FIK mengabdi oleh BEM FIK), saya benar-benar merasakan susahnya hidup ini..
mahasiswa... tak punya kepentingan apapun dalam membela rakyat..
semangat juang yang tulus,, tak mementingkan materil...
berbagi penuh keikhlasan
beraksi penuh perjuangan
Jumat, 04 Mei 2012
mojang
~~~sing "cinta akan kuberikan bagi hatimmu yang damai"
oke oke oke,, suara merdu temen2 yang lagi latihan vocal group ditangkap dengan baik oleh daun telingaku (walau ditutupu jilbab)
ups.. pertama-tama salam dulu...
assalamuailaikum... hai blog yang saat ini lagi sepi,,,,, (tapi ntar ga bakalan sepi kok ^.^)
hm hm hm,,, udah berapa lama ga ngintip2 keadaan kotak kecilku ini... (kira2 2 minggu deh)...
sebenrnya bukan ga punya cerita buat di tumpahkan disini, tapi lagi sibuk (sok sibuk) dan males buat nulis...
oke, oke, kita mulai dari mana ya? baik dari kisah di Bandung aja.
tanggal 26 April kemaren aku liburan di Bandung (padahal kerjaan di Depok numpuk). anggap saja melarikan diri dari pekerjaan baik akademis dan non akademis yang segudang..
banyak bgt petualangan ku di sana..
percaya ga, aku pergi ke sana sendirian.. (nasib jomblo #apa hubungannya?) ya udah, aku emang pengen prgi sendiri plus temen2 perginya hari sabtu... jadi, aku berangkat dari depok jam 6 sore dan nyampe disana ssektar jam stengah 10 malam (bagian yang lagi di bis skip aja ya, padahal asik bgt). ga tau mau ngapain sambil nungguin siska, aku jalan ajaa tu ke ciwalk (padahal ga tau ciwalk yang mana)
tau ga, aku bikin malu diri sendiri malam itu. gini, pas aku jalan ke ciwalk, nah aku nanya sama teteh2 yang lagi nungguin apa... gitu. "ciwalk dimana ya mbak?" #tampangPolos teru, si teteh itu agak kaget aku nanyain ciwalk.. lalu dia berdiri dan menunjuk ke sebrang jalan "itu yang di sebrang ciwalk teh" kebayang ga malunya saat iitu?? (muka tertunduk) aku nanyain tempat yang udah ada di depan mataku sendiri??? pfft......
yaudah lah, namanya orang baru! hehehe
lanjut... yak, akhirnya siska dateng mengenakan pakaian yang berbau olahraga.. lalu kami lanjut k "buah batu" daerah kekuasaan siska...
keesokan harinya.. (kayak drama aja)
aku siska n cimoik bertolak ke dago... ceritanya mau jalan2 sama ketemu temen2 nih.. sayangnya tidak semua hal itu terwujud karena temen2 ku pada ibuk. hanya mahen n mak lai yang berhasil di temui hari itu. (berkat diantarin hasbi)
jadilah kami "mangalai2" di kosan mahen setelah sebelumnya keliling2 di King...
dan sore menjelang maghrib, rencananya mau balik ke buah batu dan langsung istirahat dissana. tapi, si kojek tiba2 ngajakin pergi maen.. ya udah, terjadi kegalauan disana. barang2 masih di buah batu, dan sekarang harus menginap di dago.
yak, keputusan bijaksana di keluarkan oleh siska.. balik ke buah batu dulu buat ngambil barang, lalu balik lagi ke dago..(sebenrnya keputusan umum sih)
pas di jalan mau ke buah batu, masih belum dapet kepastian ssiapa yang baka nganterin aku ke dago lagi. dan akhirnya muncullah ide untuk minta tolong sama si baluik (bukan hewan ya).. alhamdulillah banget dia mau nganterin ke dago..
tapi, cuma sampe BIP (gue yang minta). dari BIP dijemput sama bg wirman.. dan tau petualangan apa lagi yang terjadi malam itu? bg wirman lupa jalan dan akhirnya ngikutin jalan searah dan sampainya entah dimana...
akhirnya malam itu ga jadi pergi sama temen2 karena aku keliling kota Bandung #lebay
minggu, 29 April
huam..... masih ngantuk nih gara2 cerita2 ama si raqa sampai tengah malem....
hm.... hari ini gabut bgt pokoknya... cuma bongkar2 laptop si raqa dan nemu poto2 n video yang super lucu... #gakakSendiri
hah.. akhirnya raqa dateng juga...
jam 2 aku ssama mahen pergi ke ciwalk nyusul temen2 yang udah dissana.....
awalnya makn di *lupa namanya* dan lalu salat ashar dan lalu tba2 kami terpisah.. rombongan pertamaa kojek,fikri,imam, dyno,muthia,dan sania. rombongan kedua aku,cia,aldo,elka,dan mahen. kenapa terpisah tiba2? ga tau ah..
sadar terpisah, kami lanjut aja jalan2 keliling ciwalk di pandu oleh ahlinya.. aldo.
cia yang waktu itu lagi bete banget ngjakin karaokean, jadilah kami waktu itu menggila, manggalau, dan segala macam ungkapan orang2 jomblo yang rada ga waras. hahaha
waduh, udah jam 6 sore. sedangkan dies natalis mulai jam 7 malem. yah....
kami kabur cepat2 meninggalkan ciwalk. dan basah2an (gara2 hujan) naik ke angkot. diana ketemu lagi sama kojek dkk.
oke oke oke,, suara merdu temen2 yang lagi latihan vocal group ditangkap dengan baik oleh daun telingaku (walau ditutupu jilbab)
ups.. pertama-tama salam dulu...
assalamuailaikum... hai blog yang saat ini lagi sepi,,,,, (tapi ntar ga bakalan sepi kok ^.^)
hm hm hm,,, udah berapa lama ga ngintip2 keadaan kotak kecilku ini... (kira2 2 minggu deh)...
sebenrnya bukan ga punya cerita buat di tumpahkan disini, tapi lagi sibuk (sok sibuk) dan males buat nulis...
oke, oke, kita mulai dari mana ya? baik dari kisah di Bandung aja.
tanggal 26 April kemaren aku liburan di Bandung (padahal kerjaan di Depok numpuk). anggap saja melarikan diri dari pekerjaan baik akademis dan non akademis yang segudang..
banyak bgt petualangan ku di sana..
percaya ga, aku pergi ke sana sendirian.. (nasib jomblo #apa hubungannya?) ya udah, aku emang pengen prgi sendiri plus temen2 perginya hari sabtu... jadi, aku berangkat dari depok jam 6 sore dan nyampe disana ssektar jam stengah 10 malam (bagian yang lagi di bis skip aja ya, padahal asik bgt). ga tau mau ngapain sambil nungguin siska, aku jalan ajaa tu ke ciwalk (padahal ga tau ciwalk yang mana)
tau ga, aku bikin malu diri sendiri malam itu. gini, pas aku jalan ke ciwalk, nah aku nanya sama teteh2 yang lagi nungguin apa... gitu. "ciwalk dimana ya mbak?" #tampangPolos teru, si teteh itu agak kaget aku nanyain ciwalk.. lalu dia berdiri dan menunjuk ke sebrang jalan "itu yang di sebrang ciwalk teh" kebayang ga malunya saat iitu?? (muka tertunduk) aku nanyain tempat yang udah ada di depan mataku sendiri??? pfft......
yaudah lah, namanya orang baru! hehehe
lanjut... yak, akhirnya siska dateng mengenakan pakaian yang berbau olahraga.. lalu kami lanjut k "buah batu" daerah kekuasaan siska...
keesokan harinya.. (kayak drama aja)
aku siska n cimoik bertolak ke dago... ceritanya mau jalan2 sama ketemu temen2 nih.. sayangnya tidak semua hal itu terwujud karena temen2 ku pada ibuk. hanya mahen n mak lai yang berhasil di temui hari itu. (berkat diantarin hasbi)
jadilah kami "mangalai2" di kosan mahen setelah sebelumnya keliling2 di King...
dan sore menjelang maghrib, rencananya mau balik ke buah batu dan langsung istirahat dissana. tapi, si kojek tiba2 ngajakin pergi maen.. ya udah, terjadi kegalauan disana. barang2 masih di buah batu, dan sekarang harus menginap di dago.
yak, keputusan bijaksana di keluarkan oleh siska.. balik ke buah batu dulu buat ngambil barang, lalu balik lagi ke dago..(sebenrnya keputusan umum sih)
pas di jalan mau ke buah batu, masih belum dapet kepastian ssiapa yang baka nganterin aku ke dago lagi. dan akhirnya muncullah ide untuk minta tolong sama si baluik (bukan hewan ya).. alhamdulillah banget dia mau nganterin ke dago..
tapi, cuma sampe BIP (gue yang minta). dari BIP dijemput sama bg wirman.. dan tau petualangan apa lagi yang terjadi malam itu? bg wirman lupa jalan dan akhirnya ngikutin jalan searah dan sampainya entah dimana...
akhirnya malam itu ga jadi pergi sama temen2 karena aku keliling kota Bandung #lebay
minggu, 29 April
huam..... masih ngantuk nih gara2 cerita2 ama si raqa sampai tengah malem....
hm.... hari ini gabut bgt pokoknya... cuma bongkar2 laptop si raqa dan nemu poto2 n video yang super lucu... #gakakSendiri
hah.. akhirnya raqa dateng juga...
jam 2 aku ssama mahen pergi ke ciwalk nyusul temen2 yang udah dissana.....
awalnya makn di *lupa namanya* dan lalu salat ashar dan lalu tba2 kami terpisah.. rombongan pertamaa kojek,fikri,imam, dyno,muthia,dan sania. rombongan kedua aku,cia,aldo,elka,dan mahen. kenapa terpisah tiba2? ga tau ah..
sadar terpisah, kami lanjut aja jalan2 keliling ciwalk di pandu oleh ahlinya.. aldo.
cia yang waktu itu lagi bete banget ngjakin karaokean, jadilah kami waktu itu menggila, manggalau, dan segala macam ungkapan orang2 jomblo yang rada ga waras. hahaha
waduh, udah jam 6 sore. sedangkan dies natalis mulai jam 7 malem. yah....
kami kabur cepat2 meninggalkan ciwalk. dan basah2an (gara2 hujan) naik ke angkot. diana ketemu lagi sama kojek dkk.
Langganan:
Postingan (Atom)

